Agamamu,agamaku
Beberapa waktu lalu dunia, Indonesia setidaknya, kembali dihebohkan oleh pemunculan kembali karikatur Nabi Muhammad SAW. Karikatur ini kembali dimuat oleh media-media di Barat sebagai respon terhadap kematian sang kartunis itu sendiri, yang sebenarnya belum mampu dibuktikan siapa pembunuhnya. Karikatur ini akan, dan telah terbukti, melukai hati umat Islam. Entah dimana pemikiran media massa barat sehingga dengan tanpa pemikiran panjang dan hanya beralaskan pada keset hak asasi manusia, kebebasan pers, dan solidaritas atas kematian sang kartunis, mereka berani memuat karikatur ini kembali.
Memang masih banyak kejadian-kejadian lain yang melukai hati umat Islam. Sejak terjadinya serangan september 2001, Islam diidentikan dengan kekerasan dan terorisme. Sesuatu yang sebenarnya tidak mempunyai alasan yang kuat, karena aksi-aksi radikal yang dilakukan oleh segelintir kelompok Islam, tidak berarti kita dapat menggeneralisir bahwa Islam secara keseluruhan adalah teroris. Lagipula, tindakan mereka adalah sebagai balasan, karena mereka mengganggap bahwa agamanya, Islam, telah diinjak-injak dan diperlakukan dengan tidak adil.
Ok, jika kita bisa menggeneralisir Islam adalah terorisme karena aksi redikal segelintir kelompok, maka Protestan dan Katholik termasuk teroris juga. Apa bedanya Al-qaeda dengan Irish Republican Army? Atau apa bedanya peristiwa September 2001 dengan pembantaian etnis Muslim di Bosnia?
Sekarang kita beralih pada pihak yang lain, saya sebagai seorang Kristen merupakan minoritas di Indonesia. Selama saya hidup saya telah merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi minoritas, sering terpinggirkan hanya karena status agama saya. Sejak kelas 3 SD saya sudah mulai mendapatkan perlakuan yang sangat tidak enak, diolok-olok dalam sebuah bus kota hanya karena memakai kalung salib. Belum lagi ketakutan yang amat sangat ketika beredar isu bahwa kompleks rumah saya, kebetulan saya tinggal dalam sebuah kompleks sekolah kristen, akan diserang oleh sekelompok orang, imbas dari konflik poso beberapa tahun silam. Imbas dari konflik poso pun ikut kami rasakan di kota kami ketika itu, sweeping KTP merajalela, bagi yang tertangkap maka nyawanya berada dalam ampunan Tuhan, atau setidaknya dalam tangan sesamanya manusia yang melakukan sweeping tersebut. Oh, pembakaran dan pemboman gereja jelas tidak boleh kita lupakan.
Dalam tulisan saya ini, tidak ada maksud sedikitpun untuk mengadu kedua agama, ataupun membandingkan rekening kesalahan yang dilakukan oleh oknum dari kedua agama. Hanya kebingungan yang mendasari tulisan ini, kenapa harus ada kekerasan dalam hubungan kedua agama ini? Agama memang bukan sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan sendiri. Agama, kalau saya tidak salah, berasal dari kata a = tidak dan gama = kacau, yang berarti agama adalah sebuah kondisi yang tidak kacau. Agama juga merupakan sebuah produk dari pemikiran manusia yang memerlukan sebuah institusi sebagai tempat mereka berhubungan dengan Tuhan. Tetapi ternyata agama kadang bahkan seringkali menjadi sumber konflik. Bukankah agama mengajarkan kedamaian? Bukankah agama sebagai media manusia dekat dengan Tuhan? Atau jangan-jangan semua kekerasan ini adalah perintah Tuhan itu sendiri melalui manusia yang sudah keterlaluan dekatnya dengan Tuhan.
Bagi saya tidak ada masalah ketika orang mempunyai keyakinan tertentu, hidup dengan keyakinannya itu, memegang teguh bahkan menjadi fanatik akan keyakinannya itu. Tapi cukup sampai disitu, jangan sampai kita kemudian menganggap bahwa orang yang berbeda keyakinan dengan kita adalah jahat, buruk, kafir, ataupun sesat, bahkan patut untuk dihabisi.
Sekali lagi tidak ada maksud untuk menyudutkan ataupun menyalahkan pihak tertentu dalam tulisan ini.
Terima Kasih.
iratnati said,
March 14, 2008 @ 6:38 am
mungkin ketika toleransi beragama dianggap hal yang sepele dan tidak begitu dihiraukan banyak orang hal tersbut alias benturan antara dua penganut agama yang berbeda memang sangat mungkin terjadi…
pelabelan islam yang teroris, pemboman gereja, ataupun pencapan aliran sesat oleh satu aliran terhadap aliran lainnya memang jadi isu yang sangat sensitif,,
gw juga pernah berhadapan langsung dengan orang yang membenci agama yang gw anut, walaupun mereka tidak menunjukannya secara langsung…tapi dari pertanyaan-pertanyaan mereka terhadapa agama gw, gw jadi berinterpretasi kalo agama gw itu satu yang salah dan nista…
jadi memang ya harusnya agama gw buat gw,,,agama elu buat elu…
bener g res?
peace…
iratnati said,
March 14, 2008 @ 6:40 am
maksud gw, mereka membuat gw berfikir kalo mereka menganggap agama gw itu salah…
peresamping said,
March 18, 2008 @ 3:27 pm
yup setuju….
amir said,
March 27, 2008 @ 7:01 pm
alo rez, pkbr?