Novelku….
Gw punya hobi baru…buat novel, dan lo sedang membaca novel pertama gw..
Ceritanya begini…
Ada seorang mahasiswa, bernama Serep, saat ini dia sedang kuliah di sebuah universitas di kota sampah. Kampus “buku ditimpa monitor” atau kampus “keajaiban” nama keren
kampus si Serep, tapi formalnya sering disebut UNSID singkatan dari “Universitas Simpang Dago” atau UNDIP “Universitas Dipati UKur”.
Si Serep, adalah mahasiswa tingkat atas, dengan asumsi kuliahnya udah lima tahun, dan sedang menyusun skripsi. Biasanya mahasiswa dengan cirri-ciri diatas, kuliahnya tinggal dikit, tapi demi mengejar IP Cum Laude –sementara IP Serep Cuma 3.31- dia rela mengulang kembali mata kuliah yang cuma dapat C, meskipun dia gak suka dengan mata kuliah tersebut.
Dengan semangat 45 si Serep memulai semester ini, dia rajin ke kampus demi mengejar target A untuk semua mata kuliahnya termasuk skripsi. Selama 4 minggu pertama, smuanya berjalan sesuai dengan kehendak si Serep, skripsi sudah hampir diterima untuk ikut sidang UP, kuliah masuk terus, paling keganggu ama liburan doank.
Tapi ketika keadaan berjalan normal, Serep sudah rajin kuliah, eh..ada dosen si Serep yang malas ngajar. Okelah kalo sekali doank, ini malah udah dua kali berturut gak masuk ngajar, parahnya lagi si Serep ngambil mata kuliah si dosen ini 2 biji!
Peristiwa yang paling anyar ketika hari Rabu tanggal 19 Maret 2008, dengan semangat Si Serep bangun dan kemudian menyambar alat mandinya, tiba di kampus tepat jam 10. Namun untung tak dapat diraih, malang jauh jaraknya…si dosen itu gak masuk lagi. Serep dengan kesal menghadap ke ruang dosen, untuk menanyakan kebenaran berita ini. Sesampainya di ruang dosen, dia bertemu dengan dosen yang tidak masuk ngajara itu, si Serep bertanya “tidak masuk ngajar?”, dengan wajah dan senyuman tanpa dosa sambil memakan keripik si dosen menjawab “enggak, absen aja”…..
Marah, dongkol, kesal campur aduk semua, si Serep sebenarnya pengen marah, ngegebrak meja si dosen, tapi gak dilakukannya. Serep sadar pernah punya masalah dengan dosen itu beberapa semester yang lalu. Masalah yang bahkan melibatkan campur tangan dosen lain dan ketua jurusan untuk menyelesaikannya. Serep bukannya takut, tapi dia malas kalo harus mulai masalah baru lagi,
Hati si Serep terus meracau…apa si dosen ini gak punya tanggung jawab apa?kan kasian mahasiswa yang kuliahnya hari ini cuma satu, trus bayar ongkos angkot yang mahal hanya untuk mendengarkan kabar bahwa dosennya gak ngajar? Untung hari ini kuliah si Serep ada 2 lagi, jadi gak terlalu rugi.
Tapi dalam hati, si Serep sadar kalo ini adalah resiko mengambil mata kuliah yang dipegang oleh si dosen yang “namanya tidak boleh disebutkan ini”. Berbagai macam alasan bisa keluar dari mulut dosen ini ketika dia malas ngajar.mulai dari ayamnya sakit ampe monyetnya sakit.
Si dosen yang “namanya tidak boleh disebutkan ini” memang menjadi tokoh antagonis dikalangan mahasiswa. Si serep sendiri, mungkin karena dianggap sebagai orang yang berani menghadapi dosen ini, menjadi tempat penampungan segala keluh kesah dan unek-unek tentang si voldemort ini. Bahkan ada mahasiswa yang ikut curhat ke Serep, mahasiswa ini, namanya Anin, udah mengajukan judul skripsi lebih dari 5 kali, ditolak terus dengan alasan kurang spesifik, judulnya kira-kira seperti ini “pengaruh WHO terhadap penanganan virus flu monyet di Vietnam” kemudian di revisi ke Indonesia, lalu bandung, tapi semuanya ditolak, kurang spesifik katanya. Saran Serep ketemannya, cuma satu, ganti aja judulnya jadi “Pengaruh WHO terhadap penanganan virus flu monyet di kelurahan cibeunying, kecamatan cikalong wetan, RT 03, RW 05” kurang spesifk juga? Cantumin sekalian nomor rumahnya!
Kembali ke Serep, akhirnya dia dengan hati yang dongkol naik ke lantai tiga untuk mengabsen, ditangga ketemu ama si Odnan, kata si Odnan absen ada dikelas, naiklah si Serep ke kelas. Dkelas ketemu ma Uyab yang menawarkan bahan ajar mata kuliah si Voldemort, si Serep melihat sebentar, dan tambah dongkollah dia melihat bahan ajar tersebut. Alasannya, tanya si Serep sendiri ya….
Kekesalan yang campur aduk dalam hati dan otak si Serep terus memuncak, tapi dia gak bodoh untuk menghardik si Voldemort dan memulai sebuah saga pertarungan yang baru. Jalan yang diambil oleh si Serep adalah membuat novel ini….
Ini Cuma awalnya aja, gak bagus ya? Peduli amat!!!gw Cuma mau curhat koq…
Oia , cerita diatas sama sekali BUKAN fiktif! Kejadian nyata! Kalo ada kesamaan nama, karakter, alur cerita, itu memang disengaja and nothing to sorry for!!!!!
Nama-nama karakter dalam novel ini juga asli koq, cuma dibalik aja, soalnya saya terinspirasi ma Dan Brown yang suka pake anagram dalam novelnya, meskipun anagram yang gw pake masih tahap awal.
Masalah nama voldemort, si dosen, tetap dirahasiakan, jadi kalo mau panggil aja namanya “dia yang namanya tidak boleh disebutkan” atau lebih tepat “dia yang namanya haram disebutkan” .
Any comments?
J. K. Towling said,
March 28, 2008 @ 5:29 am
Serep..anak laki-laki yang bertahan hidup..
Waktu Dia-yang-namanya-ngga-boleh-disebut mo mencoba ngalahin Serep, tiba-tiba aja dia kalah dan seketika seluruh reputasinya runtuh dan hilang musnah. Peristiwa tersebut juga meninggalkan bekas luka seperti bekas jerawat muncrat di jidad Serep yang sangat fenomenal.
Dia-yang-namanya-ngga-boleh-disebut sekarang sudah lemah, namun kegigihannya untuk kembali mendapatkan reputasi besar tetap bertahan. Serep sebagai anak laki-laki yang bertahan hidup masih mengalami perang batin dan perang akademik dengan Dia-yang-namanya-ngga-boleh-disebut.
peresamping said,
March 29, 2008 @ 2:42 am
I though your name was J.K Bowling?…hah nevermind…
perang akademik? seperti apa gerangan???